Cara Menyusun Sinopsis
A. Pendahuluan
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP tahun 2006 mulai
diberlakukan pada tahun pelajaran 2006-2007, di mana kurikulum tersebut
mengharapkan dan mengarahkan kepada setiap guru untuk lebih luwes (fleksibel)
dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan menilai Siswa pada tiap pembelajaran.
Siswa pun juga lebih dihargai dengan segala keamampuan yang dimiliki untuk
dapat dikembangkan lebih optimal sesuai dengan standar kompetensi yang telah
ditetapkan oleh sekolah.
Pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada
keamampuan siswa menulis atau membuat sebuah ringkasan (sinopsis)
atau mengarang (bercerita) masihlah dinilai sangat rendah.
Kesulitan-kesulitan seringkali dialami oleh siswa yang disebabkan oleh guru,
dalam arti guru belum bisa menarik siswa untuk lebih tertarik dalam membuat
sebuah karangan atau ringkasan, membuat siswa untuk mudah mengerti dan memahami
bagaimana cara menulis, atau paling tidak mengenalkan bagaimanakah
langkah-langkah dalam membuat suatu tulisan (karangan) atau lebih khusunya
membuat sebuah sinopsis yang benar.
Postingan ini saya buat dengan harapan agar kiranya dapat
menambah wawasan tentang pengertian sinopsis, bagaimana langkah-langkah dalam
menyusun sinopsis, dan bagaimana cara menilai sinopsis hasil karya
siswa/peserta didik.
B. Konsep Teoritis
Sinopsis adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan
bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau
ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis mengandung tiga pengertian
yaitu; ikhtisar karangan, ringkasan, atau abstraksi, Keraf (1977: 84)
menyatakan bahwa ringkasan sumarry précis adalah suatu cara yang efektif
untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk pendek. Kata précis
berarti memotong atau meringkas. Dengan demikian meringkas ibarat memangkas
sebatang pohon yang akhirnya tinggal batang dan cabang-cabang yang terpenting.
Menurut Keraf, keindahan gaya bahasa, ilustrasi serta
penjelasan-penjelasan yang terperinci harus dihilangkan, sari karangannya
dibiarkan saja tanpa hiasan dan yang tinggal hanyalah pokok-pokoknya saja.
Namun demikian meskipun bentuknya ringkas, pikiran pengarang dan pendekatannya
yang asli masih tetap dipertahankan dan harus ada.
Penulisan ringkasan harus berbicara sesuai dengan tulisan
pengarang. Oleh karena itu dalam ringkasan, kalimat “Dalam alinea ini penulis
mengatakan … “ atau “Penulis berpendapat … “ harus dihindari. Pernyataan
demikian adalah suara penulis yang membuat ringkasan. Penulis yang membuat
ringkasan seyogyanya langsung menyusun ringkasan tersebut, yang dimulai dengan
meringkaskan kalimat-kalimat, alinea-alinea, bab-bab atau bagian-bagian yang
lain dan seterusnya. Tidak berbeda jauh pula dengan pengertian ikhtisar yang
berarti pula sebagai ringkasan. Hanya penggunaanya pada umumnya diarahkan pada
buku-buku karya ilmiah.
Berbeda dengan abstraksi yang biasanya kita temukan dalam
penyusunan skripsi dan tesis. Abstraksi dalam pengertian ini pun berarti
ringkasan, perbedaannya sangat tipis yaitu hanya pada sisi tujuan
penggunaannya. Ringkasan biasa dilakukakan terhadap objek karya sastra, maupun
nonsastra, atau dalam karya ilmiah maupun nonilmiah. Sinopsis seringkali
dipergunakan dalam karya yang bersifat sastra. Kalau pun ada sinopsis yang
dikenakan pada karya nonsastra bahkan pada karya ilmiah, itu merupakan model
dan bentuk pengembangan. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan
bahwa sinopsis adalah ringkasan yang mengarah pada karya-karya baik fiksi
maupun non fiksi, sedangkan sasaran ringkasannya adalah karya-karya ilmiah
lebih kita gunakan istilah abstraksi atau ringkasan itu sendiri.
Sinopsis bukanlah resensi, sebab resensi tidak hanya
meringkas tetapi juga menyimpulkan baik buruknya bulku sesudah dibaca, bahkan
dalam resensi penulis dituntut untuk memberi ulasan sesudah melakukan telaah.
Umumnya penulis resensi menyeleksi buku-buku secara khusus, yaitu hanya
buku-buku yang baru terbit saja dan menarik untuk dikaji atau diresensi.
Postingan ini tidak akan membahas bentuk-bentuk atau
perbedaan ikhtisar, resensi, dan sinopsis, maupun abstraksi, tetapi membahas
bagaimana menulis sebuah sinopsis. Oleh karena itu, marilah kita samakan
persepsi kita dalam memahami pengertian sinopsis. Persepsi kita sinopsis adalah
ringkasan yang berbicara susasana pengarang asli (pengarang buku yang
diringkas) dengan tetap mempertahankan bentuknya sebagai sebuah karangan.
C. Persiapan Menyusun Sinopsis
Sebelum kita mulai menyusun sinopsis, terlebih dahulu
barlatihlah membuat ringkasan yang diambil dari sebuah karya atau artikel. Hal
ini sangat berguna untuk mengembangkan ekspresi dan latihan menghemat kata.
Latihan ini tidak cukup dilakukan secara intensif akan mengembangkan daya
konsentrasi, serta mempertajam dalam menangkap pemahaman isi bacaan secara
tepat, cermat, dan efektif.
Latihan menyusun sinopsis harus diawali dari membaca, maka
berlatihlah secara terus menerus akan mengembangkan kemampuan membaca cepat,
tepat dan cermat. Membaca dengan cara demikian amat diperlukan untuk membantu
mempertajam gaya bahasa, serta menghindari uraian-uraian yang panjag lebar.
Dengan demikian penulis sinopsis harus terlebih dahulu membekali diri dengan
kemampuan membaca sebelum melakukan pekerjaan menyusun sipnosis. Dalam kegiatan
membaca, objek atau materi yang akan di susun menjadi sipnosis tak cukup dibaca
sekali. Materi tersebut perlu dibaca berulang kali, karena seluruh isi materi
harus benar-benar dipahami dan dihayati.
D. Langkah-langkah Menyusun Sinopsis
- Bacalah naskah asli berulang kali sampai benar-benar diketahui maksud dan pandangan pengarang.
- Pada saat membaca perlu digaris bawahi atau dicatat ide sentralnya (pokok pikiran, kalimat pokok/kalimat inti).
- Kesampingkan dulu teks asli sesudah dicatat ide sentral atau hal-hal pokok yang telah diketahui, kemudian kembangkan catatan-catatan tersebut dengan bahasa sendiri.
- Pergunakanlah kalimat-kalimat tunggal, bila memungkinkan hindari pemakaian kalimat majemuk atau mengulang kalimat, gnakan kalimat sederhana yang efektif.
- Ringkaslah kalimat menjadi frase, dan frase menjadi kata.
- Bila terdapat rangkaian ide atau gagasan dari beberapa alinea, maka ambilah ide sentralnya saja atau pokok pikiran dan kalimat pokok/intinya.
- Buanglah bebrapa alinea yang dapat diwakili dengan satu alinea saja, atau sebaliknya, dan pertahankan alinea yang memang harus dipertahankan.
- Pertahankanlah kalimat yang tidak memungkinkan untuk disederhanakan, sehingga keaslian suara pengarang tetap dapat dipertahankan pula, yaitu kata kunci yang ada pada kalimat tersebut.
- Buanglah seluruh kata tugas yang memungkinkan untuk dibuag, tetapi pertahankanlah susunan ide yang tersusun sesuai naskah aslinya.
Menyusun sinopsis sama dengan menyusun ringkasan karangan, menyusun ringkasan
karangan ibarat memangakas sebuah pohon besar menjadi pohon kecil yang padat
dan berisi. Maka hasil sinopsis adalah sebuah karangan pendek sesuai dengan
karangan aslinya. Sebagai pedoman sederhana saja, sinopsis adalah sebuah
karangan utuh diringkas menjadi sepertiganya atau seperempatnya saja cukuplah
baik apabila suara tetap dapat dipertahankan keaslinya.
E. Deskripsi Penilaian Sinopsis
- Buatlah sinopsis dari buku bacaan yang disediakan oleh guru (fiksi atau nonfiksi) (Sinopsis adalah ringkasan cerita atau karangan dari sebuah buku).
- Bacalah buku bacaan yang disediakan oleh guru, selama kurang lebih 2 jam atau paling tidak diulang membaca samapai 3 kali.
- Buatlah ringkasan bacaan tersebut dengan cara tertulis selama 45 menit, baik itu pada waktu latihan maupun penilaian atau mengikuti lomba.
- Penilaian
a. Aspek yang dinilai:
- Kesesuaian sinopsis dengan isi buku,
- Penggunaan bahasa Indonesia, dan
- Penyajian alur cerita atau sistematika penulisan cerita.
b. Rentang nilai
|
No
|
Aspek Penilaian
|
Nilai
|
|
1
|
Kesesuaian
sinopsis dengan isi cerita dalam buku
|
30
– 50
|
|
2
|
Penggunaan
bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar
|
15
– 25
|
|
3
|
Penyajian
alur cerita/sistematika penulisan cerita
|
15
– 25
|
|
Jumlah
|
60
– 100
|
5. Ceritakan kembali bacaaan tersebut ( hasil sinopsis
yang telah dibuat oleh anak), dengan teknik pidato selama 10 menit pada waktu
penilaian/mengikuti lomba, tetapi saat berlatih diusahakan kurang dari 10 menit.
6. Penilaian
a. Aspek yang dinilai
- teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
- penggunaan bahasa Indonesia yang santun.
- Penghayatan terhadap isi cerita.
- Penampilan (percaya diri)
b. Rentang nilai
|
No
|
Aspek Penilaian
|
Nilai
|
|
1
|
Teknik
bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku
|
15
– 25
|
|
2
|
Penggunaan
bahas Indonesia yang santun
|
15
– 25
|
|
3
|
Penghayatan
terhadap isi cerita
|
20
– 30
|
|
4
|
Penampilan
(percaya diri)
|
10
– 20
|
|
Jumlah
|
60
– 100
|
7. Nilai akhir adalah nilai rata-rata dari jumlah nilai
tertulis dan nilai bercerita atau sendiri-sendiri (tertulis sendiri dan
bercerita sendiri).
8. Lembar penilaian membuat sinopsis tertulis dan bercerita,
dapat digabungkan dengan format sebagai berikut.
LEMBAR
PENILAIAN
Membuat
Sinopsis Tertulis dan Bercerita
|
Nama Siswa
|
Aspek Penilaian
|
Jumlah Nilai
|
Rata2 Nilai
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
|||
Keterangan
1). Tertulis.
- Kesesuaian synopsis dengan isi certa dalam buku.
- Penggunaan bahasa Indonesia dengan EYD baik dan benar.
- Penyajian alur cerita/sistematika cerita
2). Bercerita
- Teknik bercerita dan kesesuaian dengan isi cerita dalam buku.
- Penggunaan bahsa Indonesia yang santun.
- Penghayatan terhadap isi cerita.
- Penampilan (percaya diri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar